Biadab! Pria AS Pembunuh WNI di Kamboja adalah Suaminya Sendiri, Begini Kronologinya


KTP Enen Cahyati. (Foto: Dok. Kepolisian Kamboja)
Jebrettt.com, Kamboja - Nahas, nasib seorang perempuan Indonesia ditemukan tewas terbunuh di sebuah hotel di kota Phnom Penh, Kamboja, akhir pekan lalu. Pembunuhnya adalah seorang warga negara Amerika Serikat. 
Nelson Simorangkir, Kuasa Hukum Ad Interim di Kedutaan Besar RI di Kamboja, membenarkan laporan media Kamboja bahwa korban adalah perempuan Indonesia bernama Enen Cahyati, 47, sedangkan pelaku adalah warga negara Amerika Serikat bernama Bilal Abdul Fateen, 66.
"Benar tanggal 25 Maren malam, KBRI menerima laporan dari kepolisian Kamboja, mengabarkan bahwa seorang WNI, Enen Cahyati, meninggal dunia di usia 47 tahun," kata Nelson saat dihubungi kumparan, Rabu (28/3).
Media Kamboja melaporkan Enen ditemukan tewas di kamar Hometown Suite Hotel, Phnom Penh, pada Minggu lalu. Menurut saksi, Enen dan Bilal menyewa kamar itu sejak 19 Maret lalu.
Kasus ini terungkap setelah tercium bau busuk dari dalam kamar hotel no 172 yang mereka tempati. Kamar itu lantas didobrak oleh petugas, dan ditemukan sosok Enen yang telah tewas.
Penyidik mengatakan, Enen tewas akibat dicekik. Polisi dilaporkan masih memburu Bilal yang kabur dari lokasi kejadian.
Mendapatkan laporan dari kepolisian Kamboja, KBRI langsung mendalami kasus ini dan mencari keluarga di Indonesia berbekal sebuah KTP Enen yang ditemukan di lokasi.
"Kami ke TKP, ke hotel, dan yang paling penting menghubungi keluarganya di Indonesia. Menurut keluarga, pelaku adalah suami korban," kata Nelson.
Nelson mengatakan, pelaku terburu-buru kabur dari hotel setelah sebelumnya meninggalkan sejumlah uang. Saat ini polisi masih memburu Bilal. 
"Kepolisian menyampaikan kepada imigrasi Kamboja untuk ditangkap di pemeriksaan imigrasi. Sampai hari ini, belum ada penangkapan tentang orang ini. Kami akan minta pendalaman, ada data perlintasan," kata Nelson. (Artikel Asli)
Enen Bertemu Pria AS Tersebut di Situs Pencari Jodoh

Enen Cahyati (kanan) dan Insya Maulida. (Foto: Istimewa)
Enen Cahyati tewas di tangan suaminya, seorang warga negara AS, di Phnom Penh, Kamboja. Menurut putri korban, awal pertemuan keduanya terjadi di situs pencari jodoh.
Putri sulung Enen, Insya Maulida, mengatakan ibunya kenal dengan Bilal Abdul Fateen melalui situs muslima.com pada 2014. Keduanya kemudian bertemu di Hotel Ibiss di Sarinah.
Menurutnya, saat itu ibunya sempat diinterograsi dan dilarang pulang oleh Bilal. Pelaku lalu mengajak Enen menikah saat itu.
"Mama saya diinterogasi. Mama saya cerita, enggak boleh pulang semalaman. Mama saya nggak tidur, terus dia (Bilal) minta izin katanya mau nikah lagi. Padahal mereka belum nikah. Mama saya enggak mau dipoligami, akhirnya mama saya diusir," kata Insya saat ditemui kumparan di kediaman Enen di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (28/3).
Sepekan setelah pertemuan tersebut, Bilal kembali mengubungi ibunya. Pria 66 tahun ini saat itu tengah berurusan dengan pihak kepolisian terkait masalah KDRT dengan istri pertamanya.
Pelaku pembunuhan Enen Cahyati. (Foto: Dok. Kepolisian Kamboja)
"Seminggu setelah itu mama saya ditelepon, katanya Bilal lagi di Polsek daerah Thamrin, minta tolong. Mama saya mengurus dia dipenjara selama 3 tahun, dia divonis 7 tahun, akhirnya dapat pembebasan bersyarat tahun kemarin," kata Insya.
Enen dan Bilal lalu menikah pada 2015 di penjara Salemba. Menurutnya saat itu pernikahan tersebut dilakukan dengan cara siri. Insya menduga, pernikahan itu hanya akal-akalan Bilal agar bisa bebas.
"Mungkin si Bilal udah cari informasi, kalo dia mau dapat pembebasan bersyarat dia harus nikah dengan orang sini. Minimal istri sah, nah mamah saya tuh diajak istri sah," kata Insya.
Enen ditemukan tewas di kamar Hometown Suite Hotel, Phnom Penh, pada Minggu lalu (25/3). Menurut saksi, Enen dan Bilal menyewa kamar itu sejak 19 Maret lalu.
Penyidik mengatakan, perempuan 47 tahun itu tewas akibat dicekik. Polisi dilaporkan masih memburu Bilal yang kabur dari lokasi kejadian.
Insya mengaku terkejut mendengar berita kematian ibunya dari pihak Kementerian Luar Negeri yang datang ke rumah mereka di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Namun laporan Kemlu tidak menyebut ibunya tewas dibunuh. Mereka baru tahu kejadian yang menimpa Enen dari pemberitaan media Kamboja.
Namun keluarga sudah bisa menduga peristiwa ini akan terjadi. Pasalnya, Bilal kerap memukuli dan menyiksa ibunya.
"Kami kaget, dan pasti sudah mungkin terjadi. Soalnya di depan keluarga saja dia berani mukulin mama saya. Ada yang pernah melihat di Blok M, mamah saya lagi diseret-seret," kata Insya.