Bagi sebagian besar TKI yang bekerja di Arab Saudi, tindakan kejahatan dan status ilegal yang berujung pada jeruji besi merupakan momok yang menakutkan. Tak hanya membuat mereka trauma, mendekam dalam jangka waktu lama di dalam penjara Arab Saudi juga dapat mengantarakan nyawa mereka dihadapan pedang algojo jika terbukti bersalah.
Namun, hal itu tak berlaku bagi sosok wanita yang satu ini. Alih-alih merasa ngeri dengan nuansa angker sel tahanan, ia justru merasa nyaman dan betah tinggal di penjara Tabuk, Arab Saudi. Tak kepalang tanggung, ia menghabiskan waktu hingga 8 tahun di dalam penjara tersebut. Kok bisa ya Saboom? Untuk lebih jelasnya, simak cerita serunya di bawah ini.

Dituduh membunuh anak majikan [sumber gambar]
Seperti kebanyakan TKI lainnya yang menjadi pesakitan di negeri orang, Masamah pun harus merasakan dinginnya terali sel tahanan karena kasus pembunuhan. Ia didakwa bersalah karena telah menghilangkan nyawa anak majikannya yang berusia 11 bulan. Masamah akhirnya harus mendekam di penjara selama 7,5 tahun, plus tambahan vonis hingga 2,5 tahun. Tak puas, sang majikan tetap menuntut dirinya agar dihukum mati. Namun prosesnya digagalkan oleh Mahkamah Arab Saudi bahwa Masamah tak memiliki bukti kuat melakukan pembunuhan. Ia pun lolos dari lubang maut.

Betah dipenjara karena mendapatkan penghasilan yang layak


Penjara serasa rumah sendiri [sumber gambar]
Bagi Masamah, suasana penjara Tabuk Arab Saudi layaknya sebuah tempat tinggal yang nyaman. Selain dilindungi, ia ternyata mendapatkan gaji sebesar 150 Riyal atau setara Rp 550 ribu setiap bulannya. Masamah sering membantu penjaga membersihkan ruangan dalam penjara. Yang unik, ia kerap memasakan bakwan yang dikenal sebagai bala-bala di Arab Saudi kepada salah seorang petugas penjara. Selain itu, Masamah juga membuat kerajinan tangan berupa topi, kalung dan gelang yang bisa dipesan secara khusus. Hasilnya pun sangat disukai oleh warga lokal. Dari situlah ia mendapat penghasilan yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit sebagai modal bagi keluarganya di tanah air.

Fasilitas dan keramahan suasana penjara yang membuatnya betah


Betah karena fasilitas dan suasana yang mendukung [sumber gambar]
Tak hanya suasana yang nyaman, Masamah betah tinggal dipenjara karena kelonggaran fasilitas yang diberikan. Setiap pekan, Masamah mendapatkan kesempatan berkomunikasi dan mengirim uang kepada keluarganya. Uang itulah yang digunakan sanak familinya untuk merenovasi rumah dan membuka bisnis cuci motor yang dikelola sang suami. Tak hanya itu, Masamah juga leluasa menggunakan fasilitas penjara seperti mesin cuci, pengering pakaian dan mendapatkan kebebasan membeli makanan di luar lewat sipir penjara yang membelanjakan untuk dirinya. Jadi kayak penjara rasa hotel bintang satu ya Saboom.

Penjara Tabuk yang membuatnya semakin religius


Lulus mengaji dengan sertifikat [sumber gambar]
Tersangkut kasus pembunuhan yang tak pernah dilakukannya, membuat Masamah berpasrah total kepada Tuhan. Selama mendekam di penjara, ia semakin tekun beribadah dan menjadi lebih religius. Masamah juga telah menamatkan beberapa juz Al-Qur’an meski belum semuanya. Sebagai penghargaan, ia diberi sertifikat sebagai tanda lulus oleh guru mengajinya. Yang bikin terharu, banyak dari penjaga penjara yang memberikan dukungan moral terhadap dirinya karena menganggap Masamah tak bersalah. Tak cukup disitu, para petugas penjara juga kerap mengadakan perayaan kecil-kecilan tiap kali Masamah berhasil menamatkan sebuah Juz Al-qur’an. Kebersamaan inilah yang membuat dirinya merasa bahwa penjara Tabuk sebagai tempat yang nyaman.

Sempat disindir petugas KJRI di Jeddah



Ilustrasi petugas KJRI [sumber gambar]
Perjuangan KJRI meloloskan Masamah dari jeratan maut telah membuahkan hasil. Dirinya pun dinyatakan bebas dan telah dimaafkan oleh majikan yang dahulu menuntutnya agar dihukum mati. Yang lucu, Masamah ternyata terlanjur betah tinggal di dalam penjara Tabuk. Beragam layanan, fasilitas, suasana dan layanan yang diberikan, membuat Masamah seakan lupa bahwa ia tinggal di dalam sel tahanan, bukan hotel berbintang. Bahkan, ia sempat disindir oleh beberapa orang di KJRI Jeddah karena dianggap tak mau keluar dari penjara meski telah bebas. Kalo Saboom jadi Masamah, pilih keluar atau tinggal ya?

Kesabaran menjadi kunci sukses Masamah taklukan masalahnya



Kesabarannya membuahkan hasil [sumber gambar]
Dibalik keberhasilannya lolos dari hukuman mati di Arab Saudi, Masamah ternyata mempunyai cara jitu yang ampuh dalam menghadapi masalah yang menimpanya. Bukan jurus kungfu ya Saboom. Tapi kesabaran dan kepasrahan diri kepada Sang Pencipta, karena ia tak merasa bersalah dan membunuh anak majikannya. Itulah yang menenangkan batin dan menjadi kunci yang membukakan beragam kemudahan. Terbukti, Masamah akhirnya dibebaskan dari penjara dan lolos dari hukuman mati. Keren bin paten. Kalo dapet masalah dalam hidup, hadapi dengan sabar ya Saboom.

Meski terdengar agak aneh, kisah Masamah ini membuat kita teringat akan fasilitas penjara yang ada di Indonesia. Jika dibandingkan dengan Arab Saudi, tentu perbedaanya bak bumi dan langit ya Saboom. Meski sel tahanan di Arab Saudi tergolong nyaman dan mewah, tempat tersebut tetaplah sebuah penjara bagi orang-orang bermasalah dan tak layak untuk dijadikan tempat tinggal.